Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah" (TQS. Ali Imran [3]:10) :::::::: "Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada al-khoir (Al-Islam), menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (TQS. Alim-Imran [3]:104):::::::: Sesungguhnya Allah menyukai orang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (TQS. Ash-Shaff [61]:4)

Rabu, 21 November 2012

Solusi Tuntas Pengelolaan Migas

Diposting oleh gp unhas at 15.24

Get free daily email updates!

Follow us!

Rabu 21 November 2012 pukul 16.00 bertempat di depan LT(lecture theatre) Unhas sekitar 20 mahasiswa asyik berdiskusi membahas salah satu aset rakyat Indonesia. Apa itu? Tak lain tak bukan Minyak dan gas Bumi. Dialog pembebasan kali ini difasilitasi oleh saudara Okto Mahasiswa FMIPA angkatan 2012.

Acara diawali dengan pengantar oleh fasilitaor DP, okto. Dia menjelaskan potensi migas Indonesia mencapai 8000 trilyun rupiah. Jumlah yang 4 kali lebih besar dibanding utang Indonesia saat ini yang mencapai 2000 trilyun. Saat ini 80% sumur migas dikelola oleh asing. Inilah yang menyebabkan migas tidak memberi manfaat ekonomi untuk rakyat. Setelah memaparkan keadaan migas Indonesia fasilitator kemudian mempersilahkan para peserta untuk menyampaikan pendapatnya.

“Pangkal permasalahan pengelolaan migas Indonesia adalah demokrasi. Demokrasilah yang melegalkan pengelolaan migas oleh asing. Para anggota dewan membuat UU yang menguntungkan asing dan merugikan rakyat. Karena UU yang dibuat mengizinkan asing mengelola migas jadilah harga migas menjadi sangat mahal untuk rakyat” Ungkap Ikram, Kordinator agitrop GP Daerah Makassar.

Masri, ketua komsat GP Unhas menambahkan” Bahwa sebenarnya bangsa Indonesia bisa mengelola sendiri hartanya(migasnya). Indonesia punya banyak sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan asing. Pun kalau tidak ada SDM pemerintah bisa membayar jasa para tenga kerja asing. Mereka pekerja kita pemiliknya. Mereka kuli,kita majikannya. Seharusnya seperti itu” Salah seorang mahasiswa jurusan pertambangan yang hadir pada kesempatan ini mengaminkan apa yang dikatakan Masri” ya kita punya ahli dari teknik perminyakan ITB, mereka bahkan menemukan cara bagaimana “menghidupkan” kembali sumur minyak yang telah mati. Jadi tidak benar itu kalo bangsa kita dianggap tidak mampu mengelola migasnya”.

Sementara itu Abdul Wahid, aktivis LK Uswah yang dari tadi mengernyitkan dahi akhirnya angkat bicara.” Indonesia sebenarnya kehilangan opportunity cost jika migas dikelola oleh asing. Jika kita asumsikan bahwa pendapatan migas sebesar 8000 trilyun dan migas dikelola oleh negara dan keuntungan iasumsikan 50% dari pendapatan maka Indonesia punya kesempatan dapat 4000 trilyun tapi karena migas dikelola asing Indonesia kehilangan kesempatan ini. Kita Cuma dapat 1%. Cuma 80 trilyun. Anda pilih mana 4000 trilyun atau 80 trilyun? Pungkasnya.
Sementara itu ketua GP Wilayah Sulselbar, Arif Shidiq yang hadir pada kesempatan ini mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana nanti mekanisme peralihan pengelolaan migas dari swasta ke negara.
Komentar terakhir akhirnya keluar dari Nur Ilman, aktivis GP Unhas. Dia menyatakan bahwa sebenarnya solusi tuntas permasalah migas Indonesia adalah dengan penegakan khilafah rasyidah. Negara adidaya yang akan mengelola migas sesuai syariah dan negara diharamkan mengambil keuntungan dari pengelolaan migas ini. Kalo sudah begini harga bensin dan LPG menjadi murah dan berdampak pada meningkatnya produksi barang dan jasa serta pertumbuhan ekonomi.Solusi penyerahan 100% ladang minyak adalah solusi parsial yang tidak akan memberi dampak signifikan pada rakyat karena di sisi lain rakyat masih hidup dibawah naungan kapitalisme demokrasi.

Sebagai tanggapan atas pertanyaan Arif, Dia menambahkan” Pengambil alihan minyak akan diambil paksa oleh negara. Manajemennya ketika tunduk pada negara tidak akan diganti dan produksi tidak akan terganggu tapi konsekuensinya adalah negara asing akan mengirimkan tentaranya sebagai balasan atas pengambilan paksa “harta rampokannya”.

Peserta akhirnya sepakat bahwa migas harus dikelola oleh negara dan diatur sesuai syariah Islam. Dan negara yang bisa melakukan hal ini Cuma daulah Khilafah Rasyidah.

If you Like This Article,Then kindly linkback to this article by copying one of the codes below.

URL Of Post:



Paste This HTML Code On Your Page:


Comments
0 Comments

0 komentar:

Have any question? Feel Free To Post Below:

No Spam...!
No Pornography...!
No Sukelarism...!
No Capitalism....!
No Liberalism...!
No Socialism...!
No Nationalism....!

 

Hadist

Dari Abi Nadhrah berkata: "Kami sedang berada bersama Jabir bin Abdullah, rodhiyallahu 'anhuma, dia berkata. (Rasuulullah Saw Bersabda) : "Hampir saja tidak boleh dibawa masuk ke negeri Iraq (diboikot) makanan sepotong roti-pun (qafizh), diboikot pula masuknya dirham,". Kami lalu bertanya kepada beliau, "Dari mana (bangsa) yang melakukan demikian?" Dia menjawab, "Orang orang 'Ajam (non Arab. Red. Amerika) yang memmboikotnya".
Kemudiannya Beliau berkata lagi, " Hampir–hampir saja tidak boleh dibawa masuk sekeping dinar kepada penduduk Syaam, tidak boleh pula dibawa masuk (diboikot) kepada penduduk Syaam se-takar-an makanan pun (mudyun)." Kami bertanya lagi, "Dari mana (bangsa) yang melakukan demikian? Beliau menjawab, "Dari bangsa Ruum. (Note : kita tahu Israel adalah imigran dari Ruum, utamanya dari Eropa, yang datang menjajah Palestine sejak tahun 1917). Kemudian diam sejenak.
Lalu dia berkata, Bersabda Rasuulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Akan segera tegak berdiri di akhir Ummat-Ku seorang Kholiifah (red. Beberapa saat, setelah pemboikotan itu terjadi), Kholifah akan membagi bagikan harta, dengan tanpa menghitung-hitung jumlahnya. (Shohih Muslim : 5189)

Dari Nu'man bin Basyir: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Masa Kenabian itu berlangsung di tengah-tengah kalian selama yang dikehendaki Allah, kemudian Dia mengangkatnya bila Ia hendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa khilafah di atas manhaj kenabian selama yang dikehendaki Allah, kemudian Dia mengangkatnya bila Allah hendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang menggigit selama yang dikehendaki Allah, kemudian Dia mengangkatnya bila Dia hendak mengangkatnya. Kemudian berlangsung masa kerajaan yang sewenang-wenang selama yang dikehendaki Allah, kemudian Dia mengangkatnya bila Ia hendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj kenabian." Kemudian beliau diam. [HR. Ahmad IV/273, Al-Baihaqi]